Strategi
dan Perencanaan PR serta Krisis Manajemen
Model Perencanaan PR Enam Langkah Jefkins
1.
Pengenalan
Situasi; mengenai situasi, sejarah, kekuatan yang mempengaruhi, dan
pihak-pihak yang terlibat atau terkena pengaruh baik internal maupun eksternal.
Berisi semua latar belakang informasi yang dibutuhkan untuk mendeskripsikan
secara detail makna sebuah problem statement.Hasil dari analisis situasi akan
menjadi “buku fakta” bagi praktisi PR. Analisa situasi menjadi dasar
pertimbangan bagi praktisi PR dalam menentukan program aksi dan komunikasi yang
akan diimplementasikan.
Melalui :
·
Survey untuk mengungkapkan pendapat,
sikap masyarakat, atau citra organisasi di mata khalayaknya.
·
Pemantauan berita di media massa
·
Tinjauan terhadap angka dan grafik
penjualan
·
Tinjauan terhadap kondisi persaingan
pada umumnya di pasar
·
Tinjauan fluktuasi harga saham (go
public: survey pendapat pelaku pasar bursa, penafsiran angka deviden,
penelaahan data dan neraca keuangan)
·
Situasi hubungan industri pada umumnya
( frekuensi pemogokan, protes terhadap suatu kebijakan misal, gaji, fasilitas
kerja dsb)
·
Kondisi dan pengaruh cuaca
·
Frekuensi keluhan konsumen, penerimaan
produk, serta laporan atas hasil uji coba produk pasar.
·
Diskusi mendalam dengan para petugas
penjualan serta para distributor
·
Tinjauan harga produk dan fluktuasinya
·
Kajian secara mendalam terhadap
berbagai kekuatan pasar mulai dari yang bersifat ekonomis, sosial, hingga yang
berdimensi politis.
·
Sikap dan pendapat opinion leader
2. Penetapan Tujuan
Analisa
situasi memperjelas masalah yang akan dihadapi. Tujuan harus spesifik dan tepat
waktu.
Ada
2 jenis tujuan:
1. Informasional,
menciptakan awareness, memperluas pengertian, dan menginformasikan publik.
2.
Motivasional, berusaha mempengaruhi
publik melakukan sesuatu seperti memberi donasi, membeli produk, membeli tiket
konser amal, dll.
3.
Definisi
Khalayak; PR plan harus mendeskripsikan
tiap publik dan mengapa mereka penting bagi aktivitas PR.
PR
plan menargetkan 2 jenis publik:
a.
Publik primer: usia, gender, ras,
lokasi, pendidikan, pendapatan, profesi, agama, preferensi konsumen, gaya
hidup, perilaku konsumsi produk.
b.
Publik sekunder: publik lain bisa jadi
penting atau bisa juga diabaikan karena keterbatasan sumber daya.
4.
Pemilihan Media dan Teknik-teknik PR; Pemilihan metode penyampaian pesan
komunikasi kepada audiens memegang peranan penting dalam menentukan dampak dan
efektifitas.
·
Riset
·
Media relations
·
Printed materials: brosur, leaflet.
Flyers
·
Annual reports
·
Newsletters
·
Direct mail
·
Design and production: bringing it all
together
·
Branding and consistency
·
Videos, DVDs and CD-ROMs
·
Photography
·
Speeches
·
Presentations
·
Using celebrities and spokespeople
·
Events
·
Community meetings
·
Advertising
·
Community service announcements
·
sponsorship
5. Perencanaan
Anggaran
Alasan penyusunan anggaran:
·
Mengetahui kebutuhan dana program/
kegiatan.
·
Setelah diketahui kegiatan apa saja
yang dapat dilaksanakan, anggaran dapat menjadi pedoman atau daftar kerja.
·
Manajer dapat menilai program kerja
mana saja yang sesuai dengan perusahaan (evaluasi manajemen).
·
Prioritas kegiatan dan batasan anggaran
6. Pengukuran
Hasil
·
Berdasarkan tingkat liputan
·
Berdasarkan data statistik peringkat
dan jumlah khalayak
·
Evaluasi berdasarkan sumber
·
Pengumpulan pendapat
·
Evaluasi berdasarkan umpan balik
statistik langsung
·
Umpan balik media
·
Pengukuran peningkatan pemahaman
Krisis
Manajemen
Manajemen krisis
merupakan proses perencanaan strategis terhadap krisis atau titik balilk
negative, sebuah proses yang mengubah beberapa resiko dan ketidakpastian dari
keadaan negative dan berusaha agar organisasi dapat mengendalikan sendiri
aktifitasnya. (Fearn – Banks, 1996:2)
Manajemen krisis yang
efektif tidak hanya meredakan atau mengakhiri krisis tapi juga ada kalanya
dapat memberikan organisasi reputasi yang lebih positif dari sebelum terjadi
krisis.
Krisis dalam kaca mata
public relations tidak selalu diidentikkan dengan ancaman. Krisis,
apakah itu disebabkan oleh faktor internal (konflik karyawan, konflik
manajemen, kegagalan produk) ataupun faktor eksternal (tuntutan komsumen,
perubahan kebijakan pemerintah taupun konflik elit polotis) seringkali malah
dianggap taupun sebagai sebuah kesempatan untuk membangun citra secara lebih
cepat. Tentu saja, itu sepenuhnya tergantung pada bagaimana krisis tersebut
dikelola.
Akhir dari suatu krisis
biasanya merupakan awal dari krisis yang lain. Oleh karena itu, strategi manajemen
krisis yang baik senantiasa dievaluasi
dadiperbaharui sesuaidengand perkembangan yang terjadi
didilingkungan organisasi.
GonzalesGonzalesHerrero
dan Pratt memperkenalkan konsep strategi manajemen krisis dengan tetap mengacu
pada tahapan krisis yang sudah ada . Langkah langkah tersebut meliputi :
1.
Manajemen
Isu
Memonitor lingkungan,
mencermati trend/isu baru di masyarakat yang mungkin mempengaruhi organisasi di
masa mendatang.
·
Mengumpulkan data atas isu isu
yang berpotensi menjadi krisis dan mengevaluasinya.
·
Mengembangkan strategi komunikasi dan
berkonsentrasi pada usaha mencegah terjadinya krisis.
·
Satu cara yang bisa dilakukan adalah
dengan belajar dari krisis yang dihadapi oleh organisasi lain yang sejenis
dengan aktivitas organisasi kita.
2. Perencanaan Pencegahan
Menyusun kebijakan proaktif mengai
isu tersebutMenyusun tersebut
·
Menganalisa hubungan organisasi dengan public.
·
Mempersiapkan rencana kontingensi.
·
Merancang anggota tim manajemen krisis yang potensial.
·
Menunjuk dan melatih wakil organisasi.
·
Menentukan pesan, sasaran dan media yang akan digunakan dalam menerapkan
rencana komunikasi krisis.
·
Mendidik khalayak internal.
·
Menguji prosedur krisis.
3.
Krisis
Terjadi
Memperbaiki/mengimplementasikan
rencana krisis
·
Mengembangkan materi komunikasi.
·
Mengembangkan komunikasi.
·
Mengkomunikasikan tindakan yang diambil untuk mengatasi krisis pada
publik organsisasi.
·
Menangani publik yang kena dampak.
·
Menangani dampak.
·
Mencari dukungan pihak ketiga dari para ahli.
·
Menerapkan komunikasi internalMenerapkan internal
·
Menjalankan program sehari hari dengan normal.
4.
Pasca
Krisis
Tetap
menjalin hubungan dengan publik organisasi
·
Memantau isu/krisis yang mengancam.
·
Menginformasikan melalui media atas tindakan yang
diambil, jika dianggap penting.
·
Evaluasi atas rencana krisis yang ada.
·
Menyertakan feedback atas rencana krisis yang ada.
·
Mengembangkan strategi komunikasi jangka panjang
untuk mengurangi kerusakan yang diakibatkan krisis.
Contoh
kasus:
Kasus
Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena
disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari
peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl
parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut
biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat
(08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk
Indomie dari peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk
sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie.
Kasus Indomie kini mendapat
perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera memanggil Kepala BPOM
Kustantinah. "Kita akan mengundang BPOM untuk menjelaskan masalah terkait
produk Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini," kata Ketua
Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa
(12/10/2010). Komisi IX DPR akan meminta keterangan tentang kasus Indomie ini
bisa terjadai, apalagi pihak negara luar yang mengetahui terlebih dahulu akan
adanya zat berbahaya yang terkandung di dalam produk Indomie.
A
Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang
terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid
(asam benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk
dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam
pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal
0,15%.
Ketua
BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia
dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa benar Indomie
mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasan mie instan
tersebut, tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas
wajar dan aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah.
Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.
Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.
Menurut
Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision,
produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang
regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan
anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk
dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka
timbulah kasus Indomie ini.
Langkah yang diambil:
Mengindentifikasi kasus
Mengetahui permasalahan
Mendatangkan ketua BPOM untuk
klarifikasi
Mengadakan pemulihan nama baik setelah
kasus terjadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar